Etika Profesi Hukum

  1. 1. Etika: ilmu yang mencari orientasi

Etika yang menjadi pokok bahasan buku ini dapat dipandang sebagai sarana orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab suatu pertanyaan yang fundamental: bagi mana saya harus hidup dan bertindak? Sebenarnya ada banyak pihak yang menjawab pertanyaan itu bagi kita; orang tua, guru, adat istiadat dan tradisi, teman, lingkungan sosialdan berbagai ideologi lain. Tetapi apakah benar yang mereka katakan? Dan bagaimana kalau mereka masing-masing memberikan nasihat yang berlainan? Lalu siapa yang harus diikuti?

Dalam situasi ini etika mau membantu kita untuk mencari orientasi. Tujuannya agar kita tidak hidup dengan cara ikut-ikutan saja terhadap berbagai pihak yang mau menetapkan bagaimana kita harus hidup, melainkan agar kita dapat mengerti sendiri mengapa kita harus bersikap begini atau begitu. Etika mau membantu, agar kita lebih mampu mempertanggungjawabkan kehidupan kita.

  1. 2. Etika dan ajaran moral

Etika bukan suatu sumber tambahan bagi ajaran moral, melainkan merupakan filsafatatau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Etika adalah sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran. Jadi etika dan ajaran-ajaran moral tidak berada ditingkat yang sama. Yang mengatakan bagaimana kita harus hidup, bukan etika melainkan ajaran moral. Etika mau mengerti kita harus mengikuti ajaran tertentu ataua bagaimana kita dapat mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan pelbagai ajaran moral.

Kurang, karena etika tidak berwenang untuk menetapkan, apa yang boleh kita lakukan dana apa yang tidak. Wewenang itu diklaim oleh pelbagai pihak yang memberikan ajaran moral. Lebih, karena etika berusaha untuk mengerti mengapa, atau dasar apa kita harus hidup menurut norma-norma tertentu.

  1. 3. Apa gunanya etika?

Berbeda dengan ajaran moral etika tidak mempunyai pretensi untuk secara langsung dapat membuat manusia menjadi lebih baik. Setiap orangpun bermoralitas, tetapi tidak semua orang perlu beretika. Etika adalah pemikiran sistematis tentang moralitas. Yang dihasilkan secara langsung bukan kebaikan, melainkan suatu pengertian yang lebih mendasar dan kritis.

Ada sekurang-kurangnya empat alasan mengapa etika pada zaman kita semakin perlu.

Pertama, kita hidup dalam masyarakat yang semakin pluralistik, juga dalam bidang moralitas. Setiap kita bertemu orang-orang dari suku, daerah dan agama yang berbeda-beda. Kesatuan tatanan normatif sudah tidak ada lagi. Kita berhadapan dengan sekian banyak pandangan moral yang sering yang saling bertentangan dan semua mengajukan klaim mereka pada kita.

Secara historis etika sebagi usaha filsafat lahir dari kemauan tatanan moral dilingkungan kebudayaan Yunani 2500 tahun yang lalu. Karena pandangan-pandangan lama tentang baik dan buruk tidak lagi dipercayai, para filosof mempertnyakan kembali norma-norma dasar bagi kelakuan  manusia. Situasi itu berlaku pada zaman sekarang juga, bahkan bagi kita masing-masing. Yang dipersoalkan bukan hanya apakah yang merupakan kewajiban saya  dan apa yang tidak, melainkan manakah norma-norma untuk menentukan apa yang harus dianggap sebagai kewajiban. Norma-norma moral sendiri dipersoalkan.

Kedua, kita hidup dalam masa transformasi masyrakat yang tanpa tanding. Perubahan itu terjadi dibawah hantaman kekuatan yang mengenai semua segi kehidupan kita, yaitu gelombang modernisasi. Tidak perlu kita mencoba untuk mendefenisikan disini apa yang dimaksud dengan modernisasi. Jelaslah modernisasi itu telah terasa sampai kesegala penjuru tanah air, sampai kepelosok-pelosok yang terpencil. Tak ada dimensi kehidupan yang tidak terkena. Kehidupan dalam kota-kota kita sekarang lebih berbeda dari kota-kota kita seratus tahun yang lalu daripada kota-kota seratus tahun yang lalu itu dari kota-kota seribu tahu sebelumnya.bukan karena hanya seratus tahun lalu belum ada kenderaan bermotor atau sebagainya, melainkan cara berfikir pun berubah secara amat radikal. Rasionalisme, individualisme, nasionalisme, sekularisme, materialisme, kepercayaan akan kemajuan, konsumerisme, pluralisme religius serta sistem pendidikan modern secara hakiki mengubah lingkungan budaya dan rohani di Indonesia.

Ketiga, tidak mengherankan bahwa proses perubahan sosial budayadan  moral yang kita alami ini dialami oleh berbagai pihak untuk memancing dalam air keruh. Mereka menawarkan ideologi-ideologi mereka sebagai obat penyelamat. Etika dapat membuat kita sanggup untuk menghadapi ideologi-ideologi itu dengan kritis dan objektif dan untuk membentuk penilaian tersendiri, agar kita tidak terlalu mudah terpancing. Etika juga membantu agar kita jangan naif atau eksterm. Kita jangan cepat-cepat memeluk segala pandangan yang baru, tetapi juga jangan menolak nilai-nilai hanya karena baru dan belum biasa.

Keempat, etika juga diperlukan oleh kaum agama yang disuatu pihakmenemukan dasar kemantapan mereka, dilainpihak skaligus dapat berpartisipasi tanpa takut-takut dan dengan tidak menutup diri dalam semua dimensi kehidupan masyarakat yang sedang berubah itu.

  1. 4. Etika dan agama

Ada dua masalah dalam bidang moral agama yang tidak dapat dipecahkan tanpa penggunaan metode-metode etika. Yang pertama ialah, interpensi terhadap perintah atau hukum yang termuat dalam wahyu. Yang kedua ialah bagaimana masalah-maslah moral yang baru, yang tidak langsung dibahas dalam wahyu, dapat dipecahkan sesuai dengan semangat agama itu.

Masalah pertama, menyangkut pertanyaan bagaimana kita harus mengartikan sabda Allah yang termuat dalam wahyu. Masalahnya tidak terletak dalam wahyu, melainkan pada sudut kita manusia yang harus menagkap maksudnya. Manusia secara hakiki terbatas dalam pengetahuannya. Maka ia tidak pernah mendapat kepastian seratus persen apakah ia memahami maksud Allah yang termuat dalam wahyu secar tepat. Karena kerangka pengertiannya terbatas, maka ia dapat keliru dalam mebaca wahyu. Justru yang menyangkut kebijaksanaan hidup, para ahli dari agama yang sama sering berbeda penadapatnya tentang apa yang sebenarnya diharuskan atau dilarang dalam kitab wahyu.

Untuk memecahkan masalah itu, perlu diadakan interpretasi yang dibahas bersama sampai semua sepakat bahwa itulah yang disampaikan mau disampaikan Alla kepada manuusia. Dalam usaha untuk menemukan apa pesan wahyu yang sebenarnya bagi kehidupan manusia metode-metode etika perlu dipergunakan. Begitu juga etika merangsang kita untuk mempertanyakan kembali pandangan-pandangan moral agama kita. Tidak jarang kita akan menemukan bahwa sesuatu yang kita anggap sebagai ajaran agama kita, ternyata hanyalah pendapat suatu aliran teologis atau mazhab hukum tertentu, sedangkan apa yang dikatakan dalam kitab suci ternyata mengijinkan interpretasi lain.

Masalah kedua, bagaimana menanggapi dari segi agama masalah-masalah moral yang pada waktu wahyu diterima belum difikirkan. Misalnya masalah bayi tabung dan pencangkokan ginjal. Masalah ini dalam kitab wahyu apapun tidak dibicarakan secara eksplisit, jadi paling-paling dapat ditangani melalui kias. Untuk mengambil sikap yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap masalah-masalah itu diperlukan etika.

Sebenarnya kita tidak perlu heran bahwa kaum agama pun memerlukan etika. Etika adalah usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya fikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik. Akal budi itu ciptaan Allah dan tentu diberikan kepada kita untuk kita pergunakan dalam semua dimensi kehidupan. Wahyu tidak berarti bahwa daya fikir kita tidak dicutikan. Dari orang beragama pun diharapkan agar mempergunakan anugerah Sang pencipta itu. Jangan sampai akal budi dikesampingkan dari bidang agama. Itulah sebabnya mengapa justru kaum agama diharapkan betul-betul memakai rasio dan metode-metode etika.

  1. 5. Metode etika

Etika pada hakikatnya mengamati realitas moral secara kritis. Etika tidak memberikan ajaran, melainkan memeriksa kebiasaan-kebiasaan, norma-norma dan pandangan-pandangan moral secara kritis. Etika menuntut pertanggungjawaban dan mau menyingkapkan kerancuan. Etika tidak membiarkan pendapat-pendapat moral begitu saja melainkan menuntut agar pendapat-pendapat moral moral yang dikemukakan dipertanggungjawabkan. Etika berusaha untuk menjernihkan permasalahan.

  1. 6. Apa arti kata “moral”?

Kata moral selalu mengacu pada baik buruknya manusia sebagai manusai. Jadi bukan mengenai baik-buruknya begitu saja, misalnya sebagai mahasiswa, dosen dan lain sebagainya, melainkan sebagai manusia. Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia. Norma-norma moral adalah tolak ukur untuk menentukan betul-salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik-buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku perantara tertentu dan terbatas.

Ada norma khusus yang hanya berlaku dalam bidang atau situasi khusus. Norma umum ada tiga macam: norma sopan santun, norma hukum dan norma moral. Norma sopan santun menyangkut sikap lahiriah manusia. Meskipun sikap lahiriah dapat mengungkapkan sikap hati dank arena itu mempunyai kwalitas moral, namun sikap lahiriah sendiri tidak bersifat moral. Orang yang melanggara norma kesopanan karena kurang mengetahui tatakrama didaerah itu atau karena dituntut oleh situasi tidak melanggar norma-norma moral.

Begitu halnya norma hukum. Norma hukum adalah norma yang dituntut dengan tegas oleh masyarakat karena dianggap perlu demi keselamatan dan kesejahteraan umum. Norma hukum adalah norma yang tidak dibiarkan dilanggar. Orang yang melanggar hukum, pasti akan dikenai hukuman sebagai sanksi. Tetapi norma hukum tidak sama dengan norma moral. Hukum tidak dipakai mengukur baik-buruknya seseorang sebagai manusia, melainkan untuk menjamin tertib umum.

Norma moral adalah tolak ukur yang dipakai masyarakat untuk mengukur kebaikan seseorang. Itulah sebab penilaian moral selalu selalu berbobot. Kita tidak dilihat dari salah satu segi, melainkan sebagai manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s